Saya sudah lama mau membentuk Majalah baik dalam bentuk E - Magazine atau dalam bentuk cetak, ketika ada keterbatasan dana maka saya harus menundanya, salahsatu cara yang dapat mengupda kema
han saya, maka saya harus terus menulis agar semangat saya tidak padam.Dan saya melakukan penulisan dalam bentuk blog ini juga menyalurkan kesukaan saya menulis, yang tentunya diharapkan dapat berbagi dengan paramitra sehingga secara keilmuan saya memperoleh banyak masukan dari paramitra, baik yang menjadi anggauta Rumah Usaha Indonesia atau yang ada dalam facebook saya. Semangat dengan dasar kemauan adalah faktor utama saya untuk terus menulis, kalaupun dalam bentuk yang sangat sederhana, karena saya tidak mau kalah dengan keterbatasan yang ada, maka saya sebutnya Street Magazine atau Majalah Jalanan.
Saya memahami, bahwa apa yang ada belum eye catching, memberi kenikmatan pada mata. Karena ada istilah satu gambar bisa bercerita tentang sejuta makna, dan ini juga kekurangan yang saya miliki, karena saya belum mampu memberi nilai lebih pada orang yang mau kerja di Street Magazine. Sedangkan tulisan harus tetap jalan dengan upaya untuk memajukan dunia usaha Indonesia yang salah satunya adalah melalui media. Terlebih saat banyak kawan - kawan kita yang terpuruk akibat serbuan barang - brang impor dengan adanya pemberlakuan Asean China Free Trade Agreement ( ACFTA ), salahsatunya adalah industri tekstil rumahan di Padat Suka, Cibaduyut, Bandung - Jawa Barat.
Karena dengan media online, mungkin saja saya dapat masukan dari paramitra, bagaimana caranya menghadapi serbuan barang - barang impor yang sudah merupakan bagian dari keniscayaan dengan adanya globalisasi . Karena saya yakin bahwa hal itu bukan hanya bagian dari kerja pemerintah namun kepedulian kita sebagai masyarakat Indonesia. Seperti saya punya ide, dengan adanya serbuan barang - barang dari China, kita memerlukan apa yang namanya STREET MARKET dengan mengerahkan segala potensi yang ada. Contohnya yang paling nyata adalah para mahasiswa yang menggunakan Jilbab menggunakan Jilbab prodak Padat Suka, begitu juga untuk pengguna sepatu menggunakan sepatu prodak Cibaduyut,kalaupun harganya lebih mahal, bahkan kalau perlu dengan bazar - bazar yang diadakan di Kampus dan ditempat - tempat lainnya. Selain menunjukkan bahwa kita 'CINTA PRADAK INDONESIA KITA JUGA DAPAT MEMULIHKAN PEREKONOMIAN PENGRAJIN TEKSTIL, SEPATU DAN PRODAK YANG LAINNYA.
Dari segi pemerintah dapat dilakukan kebijakan Zone Import Trading, dengan memisahkan zona prodak yaitu antara prodak China dan Indonesia, hal itu sesuai dengan Undang Undang N0 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Sehingga daya upaya yang dilakukan oleh pemerintah bisa bersinergi dengan upaya yang dilakukan oleh masyarakat dan itu bisa saja kalau kita mau, karena intinya adalah MAU, KALAU KITA MAU MAKA KITA BISA.